
Paper
PERSPEKTIF
PENELITIAN PENDIDIKAN
disusun guna memenuhi tugas Mata
Kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan
Dosen Pengampu Dra. M.Th.Sri Hartati,
M.Pd. Kons.
Oleh
1. Omega
Rianda R (1301410041)
2. Sri
Sukarti (1301413007)
3. Krisnowati (1301413071)
JURUSAN
BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
NEGERI SEMARANG
2014
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1Pengertian
Metodologi Penelitian Pendidikan
Penelitian
diartikan sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan
secara sistemastis dan logis menggunakan metode ilmiah untuk mencapai
tujuan-tujuan tertentu (Sukmadinata, 2011:5). Menurut Sugiyono (2010) bahwa
terdapat empat kunci yang perlu diperhatikan dalam kegiatan penelitian, yaitu :
a) Cara
Ilmiah, yaitu kegiatan penelitian yang didasarkan pada ciri-ciri keilmuan,
antara lain :
§ Rasional,
memiliki arti kegiatan penelitian dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal
yang terjangkau oleh penalaran manusia.
§ Empiris,
yaitu cara-cara yang dilakukan dalam penelitian dapat diamati oleh indera
manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang
digunakan.
§ Sistematis,
yang artinya proses yang digunakan dalam penelitian menggunakan langkah-langkah
yang bersifat logis.
b) Data
Data dalam penelitian haruslah data yang diamati
(empiris) dimana data ini harus valid. Valid adalah derajat ketepatan antara
data yang sesungguhnya terjadi pada objek dengan data yang dikumpulkan oleh peneliti.
c) Tujuan Penelitian
Ada tiga macam tujuan penelitian yaitu : (1)
penemuan yang berarti data yang diperoleh dari penelitian adalah data yang
benar-benar baru dan sebelumnya belum pernah diketahui, (2) pembuktian yaitu
data yang diperoleh digunakan untuk membuktikan adanya keragu-raguan terhadap
informasi atau pengetahuan tertentu, (3) pengembangan berarti memperdalam dan
memperluas pengetahuan yang telah ada.
d) Kegunaan
Secara umum penelitian digunakan untuk memahami,
memecahkan dan mengantisipasi masalah.
2.2Jenis-jenis
Metode Penelitian
Sugiyono
(2010) menyatakan bahwa berdasarkan tujuannya metode penelitian
diklasifikasikan menjadi penelitian dasar (basic research), penelitian
terapan (applied research), dan penelitian pengembangan (research and
development). Sedangkan berdasarkan tingkat kealamiahan tempat penelitian
tempat penelitian, dibedakan menjadi penelitian eksperimen, penelitian survey,
dan penelitian naturalistik.
Sukmadinata
(2011:17) membagi penelitian menjadi tiga, yakni: penelitian dasar, penelitian
terapan, dan penelitian evaluatif. Adapun perbedaan antara tiga penelitian
tersebut dapat dilihat pada tabel di
bawah ini.
|
Penelitian Dasar
|
Penelitian Terapan
|
Penelitian Evaluatif
|
|
|
Bidang Penelitian
|
Penelitian bidang fisik, perilaku dan
sosial
|
Bidang aplikasi, kedokteran, rekayasa,
pendidikan
|
Pelaksanaan berbagai kegiatan, program pada
berbagai tempat dan lembaga
|
|
Tujuan
|
Menguji teori dalil, prinsip dasar,
menentukan hubungan empiris antar fenomena dan mengadakan generasi analisis
|
Menguji kegunaan teori dalam bidang
tertentu, menentukan hubungan empiris dan generalisai analitis dalam bidang
tertentu
|
Mengukur manfaat, sumbangan dan kelayakan
program atau kegiatan tertentu
|
|
Tingkat Generalisasi
|
Abstrak, Umum
|
Umum tetapi dalam bidang tertentu
|
Konkrit, spesifik dalam bidang tertentu.
Diterapkan dalam praktik, aspek tertentu.
|
|
Penggunaan Hasil
|
Menambah pengetahuan ilmiah dan
prinsip-prinsip dasar dan hukum tertentu, Meningkatkan metodelogi dan
cara-cara pencarian
|
Menambah pengetahuan yang didasarkan
penelitian dalam bidang tertentu, Meningkatkan penelitian dan metodelogi
dalam bidang tertentu.
|
Menambah pengetahuan yang didasarkan
penelitian tentang praktik tertentu, Meningkatkan penelitian dan metodologi
tentang praktik tertentu, Membantu dalam penentuan keputusan dalam bidang
tertentu,
|
2.3Pengertian
Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif
a) Metode
Penelitian Kuantitatif
Metode
peneltian kuantitatif merupakan metode penelitian yang berlandaskan pada
filsafat positifisme. Digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel
tertentu. Teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random dan
pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian serta analisis data bersifat
kuantitaif atau statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah
ditetapkan.
b) Metode
Penelitian Kualitatif
Metode
penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang berlandaskan filsafat
pospositifisme. Digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah.
Peneliti sebagai instrumen kunci yang pengambilan sumber data dilakukan secara purposive dan snowball. Teknik pengumpulan dengan triangulasi (gabungan).
Analisis data bersifat induktif atau kualitatif dan penelitian kualitatif lebih
menekan makna dari pada generalisasi.
2.4
Perbedaan Penelitian Kuantitatif dan Penelitian Kualitatif
Guba dan Lincoln dalam
Moleong, Lexy (2000:15) menyajikan uraian yang cukup panjang dan
mempertentangkan perbedaan paradigma kedua penelitian ini. Untuk penelitian
kuantitatif digunakan istilah scientific
paradigm (paradigma ilmiah, penulis), sedangkan penelitian kualitatif
dinamakan naturalistic inquiry atau
inkuiri ilmiah.
Tabel 1. Perbedaan
Paradigma Ilmiah dan Alamiah
|
Poster
tentang
|
PARADIGMA
|
|
|
Ilmiah
|
Alamiah
|
|
|
Teknik yang digunakan
|
Kuantitatif
|
Kualitatif
|
|
Kriteria Kualitas
|
“Rigor”
|
Relevansi
|
|
Sumber teori
|
A priori
|
Dasar – dasar (grounded)
|
|
Persoalan kausalitas
|
Dapatkah X menyebabkan Y ?
|
Apakah X menyebabkabkan Y dalam latar alamiah ?
|
|
Tipe pengetahuan yang digunakan
|
Proposisional
|
Proposisional yang diketahui bersama
|
|
Pendirian
|
Reduksionis
|
Ekspansionis
|
|
Maksud
|
Verifikasi
|
Ekspansionis
|
|
KARAKTERISTIK
METODOLOGIS
|
||
|
Instrument
|
Kertas-pensil atau alat fisik lainnya
|
Orang sebagai peneliti
|
|
Waktu penetapan pengumpulan data dan analisis
|
Sebelum penelitian
|
Selama dan sesudah pengumpulan data
|
|
Desain
|
Pasti (preordinate)
|
Muncul – berubah
|
|
Gaya
|
Intervensi
|
Seleksi
|
|
Latar
|
Laboratorium
|
Alam
|
|
Perlakuan
|
Stabil
|
Bervariasi
|
|
Satuan kajian
|
Variabel
|
Pola – pola
|
|
Unsur kontekstual
|
Kontrol
|
Turut campur atas undangan
|
Perbedaannya pada
mulanya diikhtisarkan dalam Tabel 1, kemudian diuraikan menurut pokok – pokok
yang membedakannya.
1.
Teknik yang Digunakan
Pada dasarnya, baik teknik kuantitatif maupun teknik
kualitatif dapat digunakan bersama – sama. Namun, penekanannya diletakan pada
teknik tertentu. Paradigm ilmiah memberi tekanan pada teknik kuantitatif,
sedangkan paradigma alamiah memberi tekanan pada penggunaan teknik kualitatif.
2. Kriteria
kualitas
Dalam menentukan penelitian yang baik, paradigm
ilmiah sangat percaya pada kriteria rigor
, yaitu kesahihan eksternal dan internal, keandalan, dan objektivitas. Sebaliknya,
paradigm alamiah menggunakan kriteria relevansi. Relevansi di sini adalah
signifikansi I dari pribadi terhadap lingkungan senyatanya. Usaha menemukan
kepastian dan keaslian merupakan hal yang penting dalam penelitian alamiah.
3.
Sumber Teori
Sebagian besar
pengetahuan tentang perilaku sosial diarahkan pada verifikasi hipotesis yang
diturunkan dari teori a priori. Kebanyakan
teori yang disusun pada hakikatnya adalah deduktif dan logis dalam pengetahuan
perilaku sosial. Proses penyusunan teori berputar – putar pada proses deduksi
yang bisa diverifikasi dari dunia nyata atas dasar asumsi a priori.
4.
Pertanyaan yang Kausalitas
Penelitian biasanya dihadapkan pada penentuan
hubungan sebab akibat. Jawaban terhadap pertanyaan hubungan sebab-akibat penting
untuk keperluan meramalkan, control di satu oihak, dan verstehen di lain pihak. Paradigma ilmiah biasanya bertanya:
dapatkah X menyebabkan Y ? Untuk itu maka mereka mendemonstrasikan di
laboratorium bahwa Y sesungguhnya dapat disebabkan oleh X. Di pihak lai
paradigma alamiah kurang tertarik dengan apa yang diusahakan terjadi dalam
situasi yang dirancang terlebih dahulu, namun lebih tertarik pada apa yang
terjadi pada latar alamiah.
5.
Tipe Pengetahuan yang Digunakan
Paradigma ilmiah
membatasi diri pada pengetahuan proposisioanl. Pengetahuan demikian merupakan
esensi metode untuk menyatakan proposisi scara eksplesit dalam bentuk hipotesis
yang diuji untuk menentukan validitasnya. Sebaliknya, paradigma alamiah
mengizinkan dan mendorong pengetahuan yang diketahui bersama guna dimunculkan
untuk keperluan membantu pembentukan teori dari dasar maupun untuk memperbaiki
komunikasi kembali kepada sumber informasi dengan cara peristilahanmereka.
6.
Pendirian
Paradigm ilmiah
berpendirian reduksionis. Dalam hal
ini mereka menyempitkan penelitian pada focus yang relative kecil dengan jalan
membebankan kendala-kendala, baik pada kondisi anteseden pada inkuiri (untuk
keperluan mengontrol) maupun pada keluaran – keluaran. Jadi, pencari tahu
ilmiah mulai dengan menyusun pertanyaan atau hipotesis, kemudian hanya mencari
informasi yang akan memberikan jawaban pada pertanyaan atau menguji hipotesis –
hipotesis itu. Pencari tahu alamiah mempunyai pendirian ekspansionis. Mereka mencari perspektif yang akan mengarahkan pada
deskripsi dan pengertian fenomena sebagai keseluruhan atau akhirnya dengan
jalan menemukan sesuatu yang mencerminkan kerumitan gejala – gejala itu. Mereka
memasuki lapangan, membangun dan melihat pembawaannya yang tampak dari arah
mana pun titik masuknya. Jadi pencari tahu ilmiah mengambil sikap terstruktur,
terarah dan tunggal, sedangkan pencari tahu alamiah berpendirian terbuka,
menjajagi, dan kompleks.
7.
Maksud
Paradigm ilmiah
mempunyai maksud dalam usahanya menemukan pengetahuan melalui verifikasi
hipotesis yang dispesifikasikan secara a priori. Pencari tahu alamiah, di pihak
lain, menitikberatkan upayanya pada usaha menemukan unsur – unsur atau
pengetahuan yang belum ada dalam teori yang berlaku.
8.
Instrument
Untuk
mengumpulkan data, paradigm ilmiah memanfaatkan tes tertulis atau kuesioner
atau menggunakan alat fisik lainnya seperti perti poligraf, dan sebagainya.
Pencari tahu alamiah dalam pengumpulan data lebih banyak bergantung pada
dirinya sebagai alat pengumpulan data.
9.
Waktu untuk Mengumpulkan Data dan Aturan
Analisis
Pencari tahu
ilmiah dapat menetapkan semua aturan pengumpulan dan analisis data sebelumnya.
Mereka sudah mengetahui hipotesis yang akan diuji dan dapat mngembangkan
instrument yang cocok dengan variabel. Instrument ditetapkan sebelumnya tentang
ukuran terhadap ciri yang diketahui sehingga memungkinkan menetapkan waktu
melakukan analisis. Paradigm alamiah tidak diperkenankan memformulasikan secara
a priori. Datanya dikumpulkan serta dikategorisasikan dalam bentuk kasar dan
diunitkan oleh peneliti / analisis. Di samping itu, pencari tahu alamiah kurang
dibimbing oleh aturan dibandingkan dengan paradigma alamiah.
10.
Desain
Bagi paradigm
ilmiah, desain harus disusun secara pasti sebelum fakta dikumpulkan. Sekali
desaian dugunakan,maka tidak boleh mengubahnya dalam bentuk apapun. Bagi
paradigma alamiah, desain dapat disusun sebelumnya secara tidak lengkap.
Apabila sudah mulai digunakan, maka desaian itu malah mulai dilengkapi dan
disempurnakan. Desain itu dapat senantiasa diubah dan disesuaikan dengan apa
yang diperoleh dan disesuaikan pula dengan pengetahuan baru yang ditemukan.
11.
Gaya
Paradigma ilmiah
menggunakan gaya dengan menerapkan intervensi. Variabel bebas dan terikat
diisolasikan dari konteksnya, diatur sedemikian rupa sehingga hanya variabel
ini yang muncul untuk diukur, dan kemudian dikonfirmasikan dengan hipotesisnya.
Sebaliknya paradigm alamiah bergantung pada seleksi. Dari berbagai peristiwa
yang terjadi secara alamiah akhirnya dipilih sesuai gejala tanpa mengadakan
intervensi. Jadi pencari tahu alamiah tidak mengelola situasi, tetapi
memanfaatkannya.
12.
Latar
Pencari tahu
ilmiah bersandar pada latar laboratorium untuk keperluan mengadakan control,
mengelola intervensi, dan sebagainya. Sebaliknya pencari tahu alamiah cenderung
mengadakan penelitian dalam latar almiah.
13.
Perlakuan
Bagi paradigm
ilmiah, konsep perlakuan sangat penting. Pada setiap eksperimen, perlakuan itu
harus stabil dan tidak bervariasi. Untuk paradigm alamiah, konsep perlakuan
tersebut asing karena perlakuan menyertakan beberapa cara manipulasi atau
intervensi. Jika pun hal itu terjadi dengan mempertimbangkan terjadinya gejala
secara alamiah, maka perlakuan itu merupakan penyebab yang dikehendaki untuk
beberapa pengaruh yang diamati.
14.
Satuan Kajian
Satuan kajian bagi
paradigm ilmiah adalah variabel dan semua hubungan yang dinyatakan di anatara
variabel atau system variabel. Sebaliknya, paradigm alamiah berpendirian agar
satuan kajian lebih sederhana. Selain itu, mereka lebih menekankan kemurnian
system pola yang diamati secara alamiah.
15.
Unsur – unsur Konstekstual
Peneliti ilmiah
senantiasa berusaha mengontrol seluruh unsur yang menganggu yang dapat
mengaburkan unsur – unsur itu dari fenomena yang menjadi pusat perhatian atau
yang mengacu pada pengaruh terhadap fenomena itu. Peneliti alamiah bukan hanya
tidak tertarik pada control, melainkan malah mengundang adanya ikut campur
sehingga mereka secara lebih baik dapat mengerti peristiwa dalam dunia nyata
dan merasakan pola – pola yang ada di dalamnya.
2.5Kompetensi
Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif
1.
Kompetensi
Peneliti Kuantitatif
a. Memilik
wawasan yang luas dan mendalam tentang bidang pendidikan yang akan diteliti.
b. Mampu
melakukan analisis masalah secara akurat, sehingga dapat ditemukan masalah
penelitian pendidikan yang betul – betul masalah.
c. Mampu
menggunakan teori pendidikan yang tepat sehingga dapat digunakan untuk
memperjelas masalah yang diteliti, dan merumuskan hipotesis penelitian.
d. Memahami
berbagai jenis metode penelitian kuantitatif, seperti metode survey,
eksperimen, action research, expost
facto, evaluasi dan R & D.
e. Memahami
teknik – teknik sampling, seperti probability sampling dan nonprobability
sampling, dan mampu menghitung dan memilih jumlah sampel yang representative
dengan sampling eror tertentu.
f. Mampu
menyususn instrument baik test maupun nontest untuk mengukur berbagai variabel
yang diteliti, mampu menguji validitas dan reliabilitas instrument
g. Mampu
mengumpulkan data dengan kuesioner, maupun dengan wawancara observasi, dan
dokumentasi
h. Bila
pengumpulan data dilakukan oleh tim, maka harus mampu mengorganisasiakn tim
peneliti dengan baik
i.
Mampu menyajikan data, menganalisis data
secara kuantitatif untuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis
penelitian yang telah dirumuskan
j.
Mampu memberikan interprestasi terhadap
data hasil penelitian maupun hasil pengujian hipotesis
k. Mampu
membuat laporan secara sistematis, dan menyampaikan hasil penelitian ke pihak –
pihak yang terkait
l.
Mampu membuat abstraksi hasil
penelitian, dan membuat artikel untuk dimuat ke dalam jurnal ilmiah
m. Mampu
mengkomunikasikan hasil penelitian kepada masyarakat luas
2.
Kompetensi
Peneliti Kualitatif
a. Memiliki
wawasan yang luas dan mendalam tentang bidang pendidikan yang akan diteliti
b. Mampu
menciptakan rapport kepada setiap
orang yang ada pada situasi sosial yang akan diteliti. Meciptakan rapport berarti mampu membangun hubungan yang akrab
dengan setiap orang yang ada pada konteks sosial
c. Memiliki
kepekaan untuk melihat gejala yang ada pada obyek penelitian (situasi sosial)
d. Mampu
menggali sumber dengan observasi partisipan, dan wawancara mendalam secara
trianggulasi, serta sumber – sumber lain
e. Mampu
menganalisis data kualitatif secara induktif berkesinambungan mulai dari
analisis deskriptif, domain, komponensial dan tema kultural/budaya
f. Mampu
menguji kredabilitas, dependabilitas, konfrimabilitas dan transferabilitas
hasil penelitian
g. Mampu
menghasilkan temuan pengetahuan, mengkontruksi fenomena, hipotesis atau ilmu baru
h. Mampu
membuat laporan secara sistematis, jelas, lengkap dan rinci
i.
Mampu membuat abstaraksi hasil
penelitian, dan membuat artikel untuk dimuat ke dalam jurnal ilmiah
j.
Mampu mengkomunikasikan hasil penelitian
kepada masyarakat luas
2.6 Ruang Lingkup Penelitian
Pendidikan
2.6.1 Pengertian dan Pendidikan
Dalam UU No 20 Tahun
2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan diartikan sebagai usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan
Negara.
2.6.2
Ruang Penelitian Pendidikan
Ruang lingkup penelitian pendidikan di Indonesia
meliputi penelitian pada tingkat kebijakan, tingkat managerial dan
institusional.
1. Lingkup
Penelitian pada Tingkat Kebijakan Pendidikan
a. Perumusan
kenijakan tentang pendidikan yang dilakukan oleh MPR Kebijakan Presiden dan DPR
tentang Pendidikan
b. Kebijakan
Mendiknas tentang Pendidikan
c. Kebijakan
Dirjen, Gubernur, Bupati, Walikota, Diknas tentang pendidikan
d. Implementasi
kebijakan pendidikan
e. Output
dan Outcome Kebijakan Pendidikan
2. Lingkup
Penelitian Pada Tingkat Manajerial (manajemen)
a.
Perencaan pendidikan pada tingkat
nasional
b.
Organisasi Diknas Dinas Propinsi/ Kabupaten/
Kota dan institusi pendidikan
c.
Kepemimpinan Pendidikan
d.
Ekonomi Pendidikan
e.
Bangunan Pendidikan , sarana, dan prasana
pendidikan
f.
Hubungan kerjasama anata lembaga pendidikan
g.
Koordinasi pendidikan dari pusat ke daerah
h.
SDM tenaga kependidikan
i.
Evaluasi pendidikan
j.
Kearsipan , perpustakaan dan museum
pendidikan
3. Lingkup
Penelitian pada Tingkat Operasional
a.
Aspirasi masyarakat dalam memilih
pendidikan
b.
Pemasaran lembaga pendidikan
c.
System seleksi murid baru
d.
Kurikulum, silabe
e.
Teknologi pembelajaran
f.
Media pendidikan, buku ajar dll
g.
Penampilan mengajar guru
h.
Manajemen klas
i.
System evaluasi belajar
j.
System ujian akhir
k.
Kuantitas dan kualitas lulusan
l.
Manajemen klas
m.
Unit produksi
n.
Perkembangan karir lulusan
o.
Pembiayaan pendidikan
p.
Profil pekerjaan dan tenaga kerja DUDI
q.
Kebutuhan masyarakat akan lulusan
pendidikan
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Penelitian diartikan sebagai suatu proses
pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistemastis dan logis
menggunakan metode ilmiah untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Sugiyono
(2010) menyatakan bahwa berdasarkan tujuannya metode penelitian
diklasifikasikan menjadi penelitian dasar (basic research), penelitian
terapan (applied research), dan penelitian pengembangan (research and
development). Sedangkan berdasarkan tingkat kealamiahan tempat penelitian
tempat penelitian, dibedakan menjadi penelitian eksperimen, penelitian survey,
dan penelitian naturalistik.
Metode peneltian kuantitatif merupakan metode
penelitian yang berlandaskan pada filsafat positifisme. Digunakan untuk
meneliti pada populasi atau sampel tertentu. Metode penelitian kualitatif
merupakan metode penelitian yang berlandaskan filsafat pospositifisme.
Digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah.
Perbedaan penelitian kuantitatif dan kualitatif
meliputi perbedaan teknik yang digunakan, kriteria kualitas, sumber teori,
pertanyaan tentang kausalitas, tipe pengetahuan yang digunakan, pendirian,
maksud, instrument, waktu untuk mengumpulkan data dan aturan analisis,desain,
gaya, latar, perlakuan, satuan kajian, dan unsur – unsur kontekstual. Ruang
lingkup penelitian pendidikan di Indonesia meliputi penelitian pada tingkat
kebijakan, tingkat managerial dan institusional.
DAFTAR PERTANYAAN
1. Apa
pengertian metodologi penelitian pemdidikan ?
2. Apa
yang membedakan antara penelitian dasar, penelitian terapan dan penelitian
pengembangan ?
3.
Berdasarkan tingkat kealamiahan tempat
penelitian, penelitian dibedakan menjadi penelitian eksperimen, penelitian
survey, dan penelitian naturalistik. Apa perbedaannya ?
4. Apa
perbedaan penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif ?
5. Apa
yang dimaksud dengan aksioma tentang realitas ?
6. Kapan
terjadi generalisasi ?
DAFTAR PUSTAKA
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods) .
Bandung : Alfabete.
Moleong , 2009, Metodologi
Penelitian Kualitatif, BAndung: PT Remaja Rosda Karya.


07.12
Unknown
0 komentar:
Posting Komentar
Komentarlah dengan sopan :)